Rabu, 16 Oktober 2013

KELUARGA DAN SAHABAT


Bagi saya persahabatan dan keluarga khususnya kedua orang tua itu berbeda satusama lain.
Boleh kita katakan bahwa sahabat dan soulmate akan selalu ada ketika kita butuhkan, tapi ingat!! mereka mempunyai kehidupan mereka masing-masing, pasti ada suatu waktu mereka akan lebih memprioritaskan hal yang lebih penting dari kita, contohnya keluarga mereka dan teman dekatnya (bagi mereka yang lebih berfikir teman dekat/pacar adalah yang terpenting).

Permasalahan hidup pastinya akan terus berdatangan, karena kita hidup tidak sendiri di dunia ini jadi tidak mungkin seseorang hidup di dunia ini tanpa mengalami permasalahan. Ketika kita menghadapi permasalahan hidup maka kita punya sahabat dan soulmate untuk berbagi cerita, sedangkan keluarga?? cenderung kita hindari untuk bercerita kepada mereka, karena kita tidak mau mereka tahu kita mengalami kesulitan. Namun, taukah kamu bahwa perasaan mereka sebenarnya cenderung lebih sensitif. Bahkan mereka tahu bahwa kamu mempunyai permasalahan tanpa kamu bercerita kepadanya dan cenderung mereka hanya bisa menjaga perasaanmu agar tidak lebih kalut dan bahkan akan menciptakan suasana yang nyaman agar kamu merasa lebih nyaman dan tenang dalam menghadapai permasalahan.

Setiap manusia mempunyai sifat yang berbeda-beda, tak terkecuali kedua orang tuamu. Ada orang tua/keluargamu yang langsung bertanya kepadamu apa permasalahanmu dan langsung menenagkanmu. Namun, ada pula yang cenderung tidak langsung bertanya kepadamu, dan terlihat seperti cuek kepadamu...
Jangan khawatir!!!! karena kemungkinan mereka mempunyai sifat yang lebih suka in action first. Mereka cenderung akan bersifat lebih lembut dari sebelumnya dan akan memberikan nasihat-nasihat ditengah percakapan kecil antar anak dan orang tua atau antar anggota keluarga.

Mereka akan mengawasimu namun tak ingin terlihat mengawasi, mereka ingin menjagamu namun tidak ingin membatasi ruang batasmu, mereka akan selalu ada disaat kita mengalami permasalahan hidup. Ada mantan suami dan ada pula mantan istri namun tidak ada mantan orang tua atau mantan kakak dan adik???

Anggaplah persahabatan menjadi hal yang tidak terlalu berlebihan, namun tidak pula menjadi suatu hal yang dirasa tidak penting karena sahabat merupakan objek proses dibalik kedewasaan dan kesuksesan kita, sahabat juga teman hidup & teman rasa yang paling bisa mengerti kita (karena cenderung mempunyai pengalaman hidup yang sama). Keluarga akan selalu ada, mereka akan melindungimu bahkan ketika kamu salah, mereka akan memprioritaskanmu diatas apapun, karena kamu adalah harta yang tak ternilai harganya.

Family is everythink for me, how about you???
(n _ n)

Minggu, 06 Januari 2013

ANALISA TINGKAT PENGEMBALIAN PEMBIAYAAN BANK SYARIAH YANG LEBIH TINGGI DIBANDINGKAN DENGAN BANK KONVENSIONAL: STUDI KASUS MALAYSIA

V. Analisis dan Hasil Penelitian

Cost of (Islamic) Deposits
Cost of deposits adalah biaya yang dikeluarkan bank untuk dibagi kepada nasabah penabung.
Komponen ini memengaruhi harga pembiayaan karena bank syariah memiliki tanggung
jawab dalam mengelola dana nasabah penabung sehingga hasilnya kemudian dapat dibagi
bersama.

Secara keseluruhan, bank syariah membayar tingkat pengembalian kepada nasabah
penabung lebih kecil dibdaningkan dengan yang diberikan bank konvensional, kecuali pada
tahun 2006. Namun, dapat dilihat pula perbedaan di antara kedua industri tidak terlalu
mencolok melainkan dapat dikatakan keduanya saling bersaing dalam usaha menarik nasabah
penabung.

Biaya Overheads – Capital Ratio
Biaya overheads adalah biaya-biaya yang dikeluarkan oleh bank untuk membayar
biaya operasional tidak langsung, seperti gaji atau upah, tagihan listrik, dan sejenisnya.
Sementara itu, capital adalah modal dasar yang dimiliki bank untuk menjalankan usahanya.

Lima tahun sebelumnya, yaitu ketika Maybank Islamic Berhad dan Public Islamic
Bank Berhad masih berupa Unit Usaha Syariah (UUS – jika dilihat dari konteks Indonesia)
dan belum menjadi Bank Umum Syariah (BUS), rasio overheads/capital pada industri
perbankan syariah masih mencapai nilai yang lebih tinggi dibdaningkan dengan
konvensional. Sehingga pada waktu itu terlihat bahwa bank syariah belum seefisien bank
konvensional (Beik dan Arsyianti, 2006).
Berbeda dengan lima tahun lalu, setelah kedua bank tersebut terlepas dari induknya
secara utuh (namun masih satu grup perusahaan), peran kedua bank sangat berarti dalam
meningkatkan keefisienan industri perbankan syariah. Hal ini sangat dimungkinkan karena
kedua bank tersebut lahir dari dua bank terbesar se-Malaysia jika ditinjau dari sisi aset.
Sementara itu, rasio overheads/capital dari bank syariah terus menunjukkan perbaikan.
Rasio ini menunjukkan seberapa besar porsi modal yang dimiliki digunakan untuk
pengeluaran biaya overheads bank. Dari sisi ini, bank syariah menunjukkan perbaikan dalam
mengelola modalnya. Agar performanya terus berkembang, maka yang dapat kita lakukan
adalah menambah modal bank. Sementara itu, pihak bank perlu mengelola pengeluarannya
dengan bijak.

Default Premium
Tingkat premi resiko kegagalan dapat berbeda antara bank yang satu dengan lainnya.
Penentuan komponen ini sangat ditentukan oleh karakter dan kemampuan nasabah
pembiayaan. Jika nasabah tersebut dapat dipercaya, maka bank mungkin akan mengajukan
tingkat premi resiko yang rendah terhadapnya.
Indikator yang biasa digunakan untuk melihat tingkat kegagalan nasabah pembiayaan
suatu bank adalah dengan melihat NPL (Non-Performing Loan) atau NPF (Non-Performing
Financing). NPL terkait dengan bank konvensional, sementara NPF terkait dengan bank
syariah. Oleh karena bank syariah tidak mengenal pinjaman selain qard hasan (pinjaman
tanpa bunga), penggunaan kata “pembiayaan” rasanya lebih tepat dipakai daripada
“pinjaman”. NPL / NPF dapat menunjukkan pengalaman bank pada masa lalu, sehingga bank
yang bersangkutan dapat menentukan tingkat premi resiko kegagalan dalam situasi tersebut.

Meskipun performa kedua industri mengalami peningkatan dari segi penanganan
kredit/pembiayaan macet, bank syariah nampaknya masih menghadapi nasabah yang kurang
dapat dipercaya dibdaningkan bank konvensional.
Secara keseluruhan, bank syariah dapat dikatakan menghadapi premi resiko kegagalan
yang lebih tinggi dibdaningkan bank konvensional. Oleh karena itu, mereka sepertinya
menghadapi nasabah yang tidak sebaik pada bank konvensional.
Oleh karena itu, dari semua komponen yang memengaruhi marjin keuntungan pada
harga pembiayaan yang diajukan kepada nasabah pembiayaan terutamanya dipengaruhi oleh
premi resiko kegagalan nasabah penabung dan overheads/capital. Sementara itu, cost of
deposits di kedua industri perbankan di Malaysia cukup bersaing.
Dari segi NPL/NPF, bank syariah perlu lebih berhati-hati dalam memilih nasabah
pembiayaannya. Bank perlu dengan lebih cermat memperhitungkan nasabah pembiayaannya



Laily Dwi Arsyianti
Dosen Program Studi Ekonomi Islam FAI-UIKA Bogor

agar tidak terjerumus dalam pembiayaan macet yang baru.